5 Film Sci-Fi Bertopik Alien sebagai Parasit, Tidak Kalah atas Venom

5 Film Sci-Fi Bertopik Alien sebagai Parasit, Tidak Kalah atas Venom


SORANEWS-ALISTARBOT - Mulai 17 November 2021, sekuel terkini Venom siap mengguncangkan bioskop Indonesia. Film ini akan melanjutkan penjelajahan Eddy Brock dan Venom. Ini kali, mereka berdua akan berjumpa saingan yang lebih kejam, yakni Carnage.

Venom dan Carnage sebagai kombinasi di antara inang manusia dan alien parasit namanya symbiote. Parasit ialah topik yang sering diketemukan dalam jenis fiksi ilmiah. Topik itu menarik karena mengungkit salah satunya perasaan takut paling besar manusia, yakni lenyapnya kendalikan diri.

Parasit betul-betul ada di kehidupan riil. Dikutip National Geographic, parasit ialah hubungan simbiosis yang bikin rugi inangnya. Tidak seperti lebah dan bunga yang sama-sama memberikan keuntungan, beberapa parasit bisa mengambil gizi sampai mengontrol badan inang mereka seperti symbiote di film Venom.

Kumpulkan dari beragam sumber, berikut jejeran film sci-fi bertopik alien parasit yang tidak kalah hebat dari Venom: Let There Be Carnage. Telah menonton semua?


1. Life (2017)

Life ialah sci-fi horror yang dicatat oleh Paul Wernick, penulis dibalik Deadpool 2. Film ini bercerita team astronot di yang mendapati organisme bersel satu diantara luar angkasa. Sesudah mengusung makhluk itu ke laboratorium, organisme itu tiba-tiba berevolusi jadi monster tentakel yang haus darah. Membuat onar dan mempernyerap esens hidup awak kapal.

Dikutip CBR, film ini menarik karena penggemar sempat bertaruh jika Life sebagai prequel Venom. Teori edan ini berseliweran karena film ini dikerjakan oleh penulis Deadpool 2 dan menyiarkan antagonis berbentuk ‘alien parasit warna hitam'.

Dalam sebuah interviu dengan team penulis Life, jawaban mereka rancu saat disuruh verifikasi. Kemungkinan sedikit ada kebenaran dalam teori itu. Menurutmu bagaimana?


2. The Host (2013)

Lain dengan referensi awalnya, film yang diperankan Saoirse Ronan ini mengusung jenis romansa. The Host diadaptasi dari sebuah novel dengan judul sama dengan yang dicatat oleh Stephenie Meyer, penulis seri buku Twilight.

Film ini berdasarkan planet Bumi yang sukses dijajah oleh makhluk luar angkasa namanya "Wanderer". Alien itu kuasai Bumi dengan jadikan manusia sebagai inang dan menanam kesadaran mereka ke otak mereka.

Saoirse Ronan mainkan watak namanya Melanie. Sinetron narasi ini berada pada perselisihan intern di antara Melanie dan alter-ego Wanderer-nya, karena mereka jatuh hati pada dua lelaki yang lain.


3. Slither (2006)

Secara singkat, plot Slither menyatukan topik gempuran alien dan zombie apocalypse. Film ini bercerita Grant (Michael Rooker) yang terkena parasit pengontrol pemikiran.

Parasit itu jatuh ke Bumi bersama meteorit dan berkembang biak dengan membuat beberapa ribu larva berupa cacing. Selanjutnya cacing-cacing alien itu menggelinjang masuk ke badan manusia dan mengganti mereka jadi zombie.

10 Film Sadis Yang Tidak Boleh Tayang Di Banyak Negara, Seramnya Buat Mual!

5 Film Bertopik Agoraphobia, Buat Gemetar! 

Film berjenis horror comedy ini sebagai kiprah penyutradaraan James Gunn, otak dibalik Guardians of the Galaxy dan The Suicide Squad. Dikutip East Bay Times, film ini menarik dilihat karena sukses menyatukan dua jenis terkenal untuk membuat seram yang sadis tetapi humoris.


4. The Puppet Masters (1994)

The Puppet Masters mempunyai premis yang nyaris sama dengan referensi awalnya. Film ini bercerita spesies alien parasit yang berusaha menjajah dan kuasai planet bumi. Spesies alien itu dikenali bernama "Puppet Masters" karena mereka sukses memimpin Bumi dengan mengontrol pemikiran manusia.

Untuk mengontrol badan manusia, Puppet Masters tempelkan badannya ke punggung inangnya. Ini dilaksanakan karena tulang belakang manusia banyak memiliki saraf langsung terkait dengan otak.


5. The Thing (1982)

Film ini menceritakan ekspedisi satu kelompok periset ke Antartika. Saat bekerja, mereka mendapati alien kuno yang sanggup mengikuti bentuk organisme apa saja yang sudah dikonsumsi olehnya. Tanpa setahu mereka, beberapa periset mengundang masuk makhluk lapar itu ke laboratorium penuh ‘makanan'.

The Thing sebagai penyesuaian dari novel seram fiksi ilmiah kreasi John W. Campbell. Dikutip Den of Geek, The Thing benar-benar underrated pada periodenya, karena film ini dihujat oleh kritikus dan dicap sebagai 'film bodoh yang berlagak asyik karena terlalu berlebih memakai komponen gore'. FYI, 30 tahun selanjutnya film bertopik alien parasit ini raih status tontonan classic.

Berdasar referensi di atas, rupanya topik alien parasit dapat dipadukan dengan beragam jenis jenis. Beberapa film di atas pas untuk kamu yang demam Venom dan ingin cari referensi film sama. Ingin menonton yang mana dahulu, nih?

Baca Juga : 5 Argumen Film Nussa Pantas Saksikan, Penuh Pesan Positif


5 Argumen Film Nussa Pantas Saksikan, Penuh Pesan Positif

5 Argumen Film Nussa Pantas Saksikan, Penuh Pesan Positif

SORANEWS-ALISTARBOT - Film Nussa ialah film yang diadaptasi dari seri animasi dengan judul Nussa Rarra. Siaran yang memvisualisasikan kehidupan setiap hari ini, malah pertama kalinya datang tidak di Indonesia, lho, tapi di Korea selatan pada acara Bucheon Internasional Fantastis Film.


Topik film Nussa termasuk simpel dan rekat dengan kehidupan setiap hari yang memiliki muatan nilai-nilai yang positif. Film Nussa datang di tengah-tengah dunia perfilman Indonesia yang dirasakan kering kerontang, kurang film yang mendidik, tertutama untuk anak-anak.


Film ini telah direferensikan oleh beberapa orang walau baru tampil pertama di Indonesia 14 Oktober 2021 kemarin. Apakah benar film Nussa pantas saksikan? Baca penjelasannya, ya!


1. Menyuguhkan nilai-nilai positif untuk anak


Film Nussa yang dikerjakan oleh 130 animator Indonesia ini selainnya melipur memberi nilai-nilai positif, khususnya untuk anak-anak. Nilai-nilai positif yang dihidangkan film Nussa dan dapat ditiru oleh anak-anak diantaranya menyanyangi saudara, menolong rekan, menghargai orangtua, tulus, tawakal, semangat, tidak patah semangat, jadi individu yang memberi jalan keluar, dan lain-lain.


Nilai-nilai itu dihidangkan dalam episode mengenai sehari-harinya anak-anak, tidak kaku dan tidak berkesan menggurui. Animasi yang cukup detil dan penuh warna memvisualisasikan dunia anak yang penuh keceriaan lengkapi kesempurnaaan film ini.


2. Pengingat untuk orangtua


Film terkategori SU (Semua Usia) ini selainnya menyuguhkan nilai-nilai positif yang bisa ditiru oleh anak, jadi pengingat untuk beberapa orang-tua. Banyak episode yang mengingati beberapa orang-tua supaya jadi figur yang seharusnya untuk anak-anak, seperti semakin banyak memberi kasih-sayang dan perhatian dibanding luapan materi.


Ada episode yang mengundang kasihan pemirsa yakni saat Jonni mengiba perhatian ke ke-2 orangtuanya yang repot bekerja walau telah di dalam rumah. Jonni benar-benar bersedih karena orangtuanya tidak perduli walau Jonni telah merengek-rengek untuk jadi perhatian.


Untung ada Bi Mur, si pengasuh yang membuat dapat tersenyum kembali. Episode itu mengingati orang-tua jika anak-anak benar-benar memerlukan perhatian orangtuanya.


3. Animasi yang memikat

Film Nussa

Menurut Si sutradara, Bony Wirasmoro, film Nussa mengadopsi tehnologi hebat saat membuat animasi hingga hasilkan detil dan kualitas yang lebih bagus daripada serialnya di YouTube. Salah satunya tehnologi yang diadaptasi ialah hair sistem, tehnologi ini memungkinkannya watak di film Nussa kelihatan benar-benar detil karena rambutnya juga dibikin satu helai untuk satu helai.

  • 10 Film dengan Topik Nikah Kontrak, Buat Baper dan Patah Hati
  • Ulasan Film Story of Dinda, Makin Buat Terbuka Toxic Relationship 
  • Walau pada awal narasi seperti berbelit-belit, tetapi karena kuliatas animasi yang baik, menarik, penuh warna ceria karena itu anak-anak tidak jemu melihatnya. Anak-anak akan dimanja dengan beberapa warna yang umumnya mereka gemari.


    Animasi yang berkualitas dan didukung oleh artis-artis berbakat tinggi sebagai pengisi suara, jadikan film yang diproduseri oleh Anggia Karisma dan Ricky Manoppo ini jadi film animasi terbaik di Indonesia.


    Film Nussa benar-benar realitas dan dekat sama kehidupan sehar-hari lewat figur dan episode film yang diperlihatkan. Tentu saja, ini jadikan Nussa sebagai penghibur yang pas untuk beragam kelompok.


    Tiga figur lucu di film Nussa mempunyai watak berlainan. Ada Babe Jaelani dari suku Betawi, Bang Ucok dari suku Batak, dan Bi Mur dari suku Jawa. Semua memiliki watak yang unik sama sesuai wilayah asal semasing. Tiga figur ini sukses menggelitik perut pemirsa!


    Bagaimana menurut kalian dengan beberapa pesan yang dihidangkan oleh film Nussa? Cukup memiliki bobot, kan? Nach, seharusnya selekasnya melihat saat sebelum periode tayangnya habis. Rugi jika sampai terlewatkan menonton film sebaik ini. Selamat melihat, ya!


    4. Kreasi anak negeri


    Walau film ini berdasar belakang keluarga muslim, tetapi nilai-nilai yang dibawanya dibungkus sebegitu rupa. Hingga kelihatan umum dan dapat diterima oleh semua kelompok. Film ini kurang lebih memvisualisasikan Indonesia yang memiliki semboyan Bhinneka Tungga Ika. Cemerlang sekali, ya, gagasan pembikinnya.


    5. Melipur dan sentuh beragam kelompok


    Film Nussa benar-benar realitas dan dekat sama kehidupan sehar-hari lewat figur dan episode film yang diperlihatkan. Tentu saja, ini jadikan Nussa sebagai penghibur yang pas untuk beragam kelompok.


    Tiga figur lucu di film Nussa mempunyai watak berlainan. Ada Babe Jaelani dari suku Betawi, Bang Ucok dari suku Batak, dan Bi Mur dari suku Jawa. Semua memiliki watak yang unik sama sesuai wilayah asal semasing. Tiga figur ini sukses menggelitik perut pemirsa!


    Bagaimana menurut kalian dengan beberapa pesan yang dihidangkan oleh film Nussa? Cukup memiliki bobot, kan? Nach, seharusnya selekasnya melihat saat sebelum periode tayangnya habis. Rugi jika sampai terlewatkan menonton film sebaik ini. Selamat melihat, ya!

    Baca Juga : 5 Film Bertopik Agoraphobia, Buat Gemetar!



    5 Film Bertopik Agoraphobia, Buat Gemetar!

    5 Film Bertopik Agoraphobia, Buat Gemetar!

    SORANEWS-ALISTARBOT - Perubahan jaman membuat tingkat kesadaran dan kepedulian akan kesehatan psikis bertambah. Ini membuat beberapa film mulai mengusung beberapa topik sekitar psikis, satu diantaranya Agoraphobia. Agoraphobia ialah anxiety disorder yang ada karena kecemasan terlalu berlebih. Masalah ini terhitung ketakutan akan tempat atau keadaan.


    Film bertopik agoraphobia banyak bawa pemirsa untuk rasakan ketakutan akan begitu berbahayanya dunia luar, satu intimidasi yang ada karena obsesi. Buat kamu yang ingin rasakan kesan menakutkan semacam ini, berikut lima film bertopik Agoraphobia yang dapat kamu tonton.


    1. The Falling (2014)

    Saat sebelum membumbung melalui film Midsommar (2019), Florence Pugh sudah tampilkan perform akting yang luar biasa di awal mula keberadaannya, satu diantaranya di film The Falling. Berdasarkan tahun 1969, diceritakan Lydia (Maisie Williams) dan Abbie (Florence Pugh) ialah kawan dekat. Abbie berasa terlilit dengan keluarga Lydia, terhitung saudara lelakinya yang aneh dan ibunya yang menderita agoraphobia.


    Satu hari, sebuah kejadian menerpa Abbie. Sebagai teman dekat, sudah pasti Lydia ingin menolongnya, tetapi kondisi jadi lebih jelek. Tidak itu saja, di sekolah itu mulai ada beragam peristiwa aneh. Apa yang sebetulnya terjadi?


    2. We Have Always Lived in the Castle (2018)

    Diadaptasi dari novel terkenal kreasi Shirley Jackson, We Have Always Lived in the Castle bercerita cerita kakak-adik dalam menjaga kesatuan keluarga mereka. Katherine "Merricat" Blackwood (Taissa Farmiga) habiskan periode remanya dengan hidup terisolasi di rumah eksklusif punya keluarganya.


    Merricat cuman berhubungan dengan si paman, Julian Blackwood (Crispin Glover) dan saudarinya, Constance Blackwood (Alexandra Daddario). Sama dengan dianya, saudarinya juga nyaris tak pernah keluar dari rumah. Ini diperparah dengan sikap beberapa tetangga yang mengucilkan mereka karena mendakwa Constance sudah meracuni ke-2 orangtua mereka sampai meninggal.


    Tetapi, satu hari Constance ingin coba memendam masa lalu pahitnya dan stop menutup diri. Dengar ini, Merricat memilih untuk membatasi rumah supaya Constance tidak mau keluar. Sayang, karena kelalaiannya, ponakan mereka yang namanya Charles Blackwood (Sebastian Stan) juga sukses masuk rumah dan janji akan bawa Constance ke arah dunia luar.


    Langsung saja, Merricat menyimpan keraguan pada ponakannya. Dia percaya jika sebetulnya ada pola lain dibalik kehadiran Charles.


    3. Wolf Hour (2019)

    Wolf Hour (2019)

    Film thriller yang memiliki kandungan elemen psikologi, The Wolf Hour, menceritakan perjuangan wanita dalam hadapi rasa ngerinya. Diceritakan Juni Leigh (Naomi Watts) pilih tinggalkan kehidupan lama waktunya dan mengucilkan diri dalam suatu apartemen kecil di New York.

    Saat memperoleh keberhasilan besar lewat novel pertama kalinya, karier Juni malah makin tersuruk. Narasi dalam novelnya yang bercerita kematian si ayah membuat Juni dijauhi oleh anggota keluarganya. 4 tahun berlalu berselang, Juni tidak juga sanggup bangun dan belum sukses menuntaskan novel ke-2 nya.


    Kesehatan psikis Juni yang tidak konstan diperparah dengan keadaan kota New York yang makin tidak aman. Juni memutuskan untuk benar-benar tidak keluar kamarnya. Tidak stop sampai di situ, kekuatirannya juga makin kronis saat tersebar berita jika pembunuh berantai "Son of Sam" diberitakan buron dan mungkin bisa memberikan ancaman kehadirannya.


    4. Shirley (2020)

    Shirley ialah film dokumenter yang bercerita penulis wanita specialist seram dan mistis, Shirley Jackson (dimainkan Elizabeth Moss) yang sebagai penulis novel "We Have Always Lived in the Castle". Shirley hidup bersama si suami yang bekerja sebagai profesor sastra namanya Stanley Hyman (Michael Stuhlbarg).


    Satu hari, Stanley memilih untuk mengambil Fred Nemser (Logan Lerman) menjadi pendampingnya. Tidak itu saja, dia juga meluluskan Fred dan istrinya, Rosie (Odessa Young) untuk tinggal sementara di dalam rumah mereka.


    Sebelumnya Shirley berasa kecewa karena keputusan itu. Tetapi, seiring berjalannya waktu berakhir, dia juga mengetahui jika kedatangan pasangan itu menjadi ide khusus untuk novel seram Shirley selanjutnya.


    5. The Invisible Man (2020)

    Film bertopik Agoraphobia seterusnya diadaptasi dari novel classic dengan judul sama, The Invisible Man. Cecilia Kass (Elisabeth Moss) hidup dalam jalinan toxic dengan si suami, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen). Adrian sebetulnya ialah seorang periset yang kaya raya yang genius, tetapi sayang dia sangat posesif.


    Tidak kuat dengan perlakukan kasar Adrian, Cecillia juga kabur ditolong adik ponakannya, Emily (Harriet Dyer) yang membawa ke rumah rekan namanya James (Aldis Hodge) sebagai tempat aman. Tidak lama sesudahnya, Cecillia memperoleh berita jika Adrian sudah bunuh diri dan sudah mewarisi semua kekayaannya ke Cecillia.


    Cecilia yang sekarang hidup dalam kemewahan, mulai terganggu dengan teror-teror aneh yang tidak berbentuk. Tetapi, karena figur ini tidak terlihat bentuknya, tidak ada orang yang mempercayainya serta mulai menyangsikan kewarasannya. Sanggupkah Cecilia selamat dari intimidasi ini?


    Itu lima film bertopik Agarophobia. Keliatannya benar-benar menakutkan, kan?

    Baca Juga : Ulasan Film Story of Dinda, Makin Buat Terbuka Toxic Relationship